Shalat lima waktu adalah kewajiban mutlak
bagi seluruh ummat manusia yang beragama
islam. Dalam melakukan shalat pasti sudah tentu ada aturan-aturannya sehingga
shalat kita menjadi sah dan lebih sempurna. Apa saja aturan-aturan yang perlu
kita ketahui agar kita dapat menjalankan shalat dengan baik ? berikut akan kita
jabarkan dibawah ini :
Imam Abu Suja’ sebagai
pengarang kitab dasar Taqrib yang disarahi kitab Fathul Qarib membagi
syarat shalat menjadi dua kategori, yakni syarat wajib shalat dan syarat sah
shalat. Syarat wajib shalat ini sama seperti syarat-syarat wajib ibadah
lainnya, yakni:
syarat wajib shalat ada 3 :
- Islam
- Baligh
- Berakal
Sedangkan syarat sah shalat ada 5, yakni:
1. Suci badan dari hadats dan najis
2. Menutup aurat dengan pakaian yang
suci
3. berada di tempat yang
suci
4. Tahu pasti akan masuknya waktu shalat
5. Menghadap kiblat.
Rukun-rukun Shalat
Menurut penjelasan Imam Abu Suja’ dalam
Matan al-Ghâyah wa Taqrîb Rukun-rukun shalat ada 18, yakni:
- Niat
- Berdiri bagi yang mampu
- Takbiratul ihram
- Membaca surat al-Fatihah; dimana Bismillahirrahmanirrahim merupakan bagian ayatnya
- Ruku’
- Thuma’ninah
- Bangun dari ruku’ dan I’tidal
- Thuma’ninah
- Sujud
- Thuma’ninah
- Duduk diantara dua sujud
- Thuma’ninah
- Duduk untuk tasyahhud akhir
- Membaca tasyahhud akhir
- Membaca shalawat pada Nabi SAW saat tasyahhud akhir
- Salam pertama
- Niat keluar dari shalat
- Tertib; yakni mengurutkan rukun-rukun sesuai apa yang telah dituturkan
sebagaimana dijelaskan oleh Syech Muhammad Nawawi bin
Umar al-Bantani dalam kitab Nihâyah al-Zain
1. Bacaan Takbiratul Ihram
أَللهُ أَكْبَر
Allâhu Akbar
“Allah Maha Besar”
Saat takbiratul ihram ini, tangan
diangkat keatas, mulut mengucapkan “Allahu Akbar”, dan hati membisikkan niat.
Ketiga hal tersebut dilakukan secara bersamaan.
2. Bacaan Surat al-Fatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Bismillâhirrahmânirrahîm (1)
Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn (2) Ar-Rahmânir Rahîm (3) Mâliki yaumiddîn (4)
Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în (5) Ihdinash shirâthal mustaqîm (6) Shirâthal
ladzîna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdzûbi ‘alaihim waladldlâllîn (7)
Artinya: "Dengan menyebut nama
Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari
Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami
meminta pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka
yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
3. Bacaan tahiyyat akhir
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ
السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
Attahiyyâtul mubârakâtush shalawâtut
thoyyibâtu liLlâh, assalâmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatuLlâhi wabarakâtuh,
assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhish shâlihîn, asyhadu al-lâ ilâha illa-Llah,
wa asyhadu anna muhammadar rasûlullah
“Segala penghormatan yang penuh berkah,
segenap salawat yang penuh kesucian, (semuanya) adalah milik Allah. Salam
padamu wahai para Nabi, beserta rahmat dan berkah Allah. Salam bagi kami, dan
bagi hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah,
dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”
4. Bacaan shalawat Nabi sesudah tasyahhud akhir
اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمّدْ
Allahumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad
“Semoga Allah memberikan shalawat bagi
junjungan kami, Nabi Muhammad”.
5. Salam pertama
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
Assalâmu ‘alaikum warohmatullâh
“Salam dan rahmat Allah (semoga
tercurahkan) bagi kalian semua”
Sunnah Ab'ad Dalam Shalat
Menurut Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dalam Kitab Safinatun Najah sunah
ab’ad terdiri atas tujuh:
1.tasyahud.
Yang dimaksud tasyahud dalam hal ini
adalah tasyahud yang tidak dilanjutkan dengan salam, yaitu tasyahud awal.
2. duduk untuk tasyahud awal.
3.membaca shalawat nabi pada tasyahud awal
sehingga dalam duduk tasyahud awal terdapat tiga hal yang termasuk sunah ab’ad.
Jika sunah ini ditinggalkan, maka dianjurkan untuk digantikan dengan sujud
sahwi, yaitu duduk tasyahud awal, membaca tasyahud awal, dan membaca shalawat kepada
nabi pada tasyahud awal.
4. membaca shalawat kepada keluarga nabi pada tasyahud akhir.
5.membaca qunut.
6.membaca shalawat salam kepada nabi pada qunut.
7.membaca shalawat kepada keluarga nabi pada qunut.
Ada beberapa hal yang menyebabkan
kebanyakan orang meninggalkan sunah ab’ad di atas sehingga dianjurkan untuk
mengerjakan sujud sahwi. Di antaranya,
adalah lupa, ragu telah melakukannya atau tidak.
Sunnah Hai’ah dalam shalat
Bacaan-bacaan sunnah hai`ah sebagaimana dijelaskan oleh Syech Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani dalam kitab Nihâyah al-Zain sebagai berikut :
1. Membaca doa iftitah sesudah takbiratul ihram sebelum membaca fatihah
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا
وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.
إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.
إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Allâhu Akbar kabîra wal hamdu lillâhi
katsîra, wa subhânallâhi bukratan wa ashîla. Innî wajjahtu wajhiya lilladzî
fatharas samâwâti wal ardha hanîfan muslimaw wa mâ ana minal mushrikîn. Inna
shalâtî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî lillâhi Rabbil ‘âlamîn. Lâ syariikalahu
wa bidzâlika umirtu wa ana minal muslimîn.
“Allah Maha Besar dengan
sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci
Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang
telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri,
dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya
sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta
alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku
diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”
2. Membaca ta’awudz sebelum membaca surat al-Fatihah
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمْ
A`ûdzu biLlâhi minasy syaithânir rajîm
"Aku memohon perlindungan kepada
Allah dari godaan setan yang terkutuk"
3. Membaca أمين (Âmîn; Semoga Allah mengabulkan permohonan kita)
sesudah membaca surat al-Fatihah
4. Membaca ayat Al-Qur’an sesudah membaca surat al-Fatihah
5. Membaca takbir pada setiap perpindahan gerak.
أَللهُ أَكْبَر
Allâhu Akbar
“Allah Maha Besar”
6. Membaca tasbih dan doa pada saat ruku’, minimal sebanyak 3 kali
سُبْحَانَ رَبِّيْ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Subhâna Rabbiyal ‘adzîmi wabihamdih
(dibaca tiga kali)
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung, dan
dengan memuji pada-Nya
7. Membaca tasbih dan do'a ketika sujud, minimal sebanyak 3 kali:
سُبْحَانَ رَبِّيْ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
Subhâna Rabbiyal a’lâ wabihamdih (dibaca
tiga kali)
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Luhur, dan
dengan memuji pada-Nya.
8. Membaca shalawat ibrahimiyyah dan doa sesudah tasyahhud akhir
وَعَلَى آلِ سَيِّدِ نَامُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيِدِ نَآ إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَّيِدِ نَآ إِبْرَاهِيْمَ
وَ بَارِِكْ عَلَى سيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيِّدِ نَا إبْرَاهِيَْمَ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِ نَاإِبْرَاهِيْمَ
فى اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيِدِ نَآ إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَّيِدِ نَآ إِبْرَاهِيْمَ
وَ بَارِِكْ عَلَى سيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيِّدِ نَا إبْرَاهِيَْمَ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِ نَاإِبْرَاهِيْمَ
فى اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ
Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin kamâ shallaita ‘alâ Sayyidinâ
Ibrâhîma wa ‘alâ âli Sayyidinâ Ibrâhîma
Wa bârik ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa
‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin kamâ bârokta ‘alâ Sayyidinâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli
Sayyidinâ Ibrâhîma. Fîl ‘âlamîna innaka hamîdun majîd
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada
junjungan kami, Nabi Muhammad saw, dan kepada keluarganya, sebagaimana Engkau
limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrohim as. dan keluarganya. Berikanlah keberkahan
kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, dan keluarganya, sebagaimana Engkau
limpahkan berkah kepada Nabi Ibrohim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha
Terpuji lagi Maha Agung di seluruh alam.”
Perkara Makruh dalam Shalat
1. Menaruh telapak tangan anda didalam
lengan baju ketika sedang Takbiratul iihram, ruku & sujud.
2. Menutup mulutnya rapat – rapat saat
mengucapkan “ Alloh hu Akbar “ atau Aminn dan Saat Salam
3. Bertolak Pinggang
Yang dimaksud disini adalah keadaan
Shalat dg tanggan di pinggang, hal ini seperti Sabda Nabi Muhammad Saw yg
berbunyi : “ Beliau (Nabi Muhammad Saw) melarang seseorang shalat dg meletakkan
tangan-nya pd perutnya / bertolak pinggang (HR Bukhari Muslim) “.
4. Memalingkan Muka baik Kekiri maupun
Kekanan
Berdasarkan Hadist Aisyah ra Nabi
Muhammad Saw pernah bersabda : “ Aku bertanya
kpd Rasulullah Saw tentang menoleh dlm shalat” Beliau kemudian bersabda :
“ Itu adlah pencurian yg dilakukan oleh setan dari shalat seorang hamba (HR
Bukhari)”..
5. Memejamkan Mata
6. Mengadah Pandangan Kelangit atau
kemanapun
Nabi Muhammad Saw bersabda dalam hal ini
yg berbunyi : “ Apa yg membuat orang2 itu mengangkat penglihatan mereka ke
langit dlm shalat mereka ? hendak-nya mereka berhenti dari hal itu atau kalau
tidak niscaya akan tersambar penglihatan mereka (HR Bukhari)”…
7. Menahan Hadast : Yang dimaksud Hadast
disini adalah menahan buang air kecil atau besar atau menahan kentut
8. Melakukan Shalat diatas Kuburan dll
Nabi Muhammad Saw bersabda yg berbunyi :
“ Bahwasannya Nabi Muhammad Saw telah melarang shalat ditempat sampah, tempat
penjagalan, kuburan, tengah jalan, dijamban, ditempat2 menderum-nya unta dan
diatas ka’bah “.
9. Memejamkan Mata dan Berludah saat
melakukan Shalat.
Hal-hal yang makruh dalam shalat diatas
jika terpaksa dikerjakan maka tidak membatalkan shalat kita, namun sebaiknya
untuk dihindari agar kualitas shalat kita tetap terjaga.
Perkara yang dapat membatalkan shalat
1. Berhadats : Yang dimaksud Berhadats
disini adalah ketika kita sedang melakukan Sholat tetapi kita tidak bisa
menahan kentut atau pipis atau buang air besar maka sholat anda akan batal.
2. Terkena Najis yg tidak dimaafkan :
Maksudnya adlh ketika kita sd melakukan Sholat badan atau pakaian kita terkena
najis air besar hewan seperti cicak maka Sholat kita sudah batal.
3. Berkata – Kata secara Sengaja :
Maksudnya adlah mengucapkan kata saat mengerjakan Shalat walaupun dg satu huruf
yg memberikan pengertian secara sengaja
4. Terbuka Auratnya : Disini mempunyai
maksud jika sd melakukan Sholat, Aurat kita terbuka walaupun dlm waktu sebentar
saja.
5. Mengubah Niat : Maksudnya jika kita
sedang melakukan Sholat kita ingin memutuskan Sholat.
6. Makan dan Minum : Maksudnya adalah
jika kita sd melakukan Sholat tetapi kita makan atau minum walaupun sedikit maka
itu akan membatalkan suatu sholat
7. Bergerak Berturut – turut : Bergerak
berturut selama 3 kali seperti melangkah atau berjalan sekali yang bersangatan
walupun tidak disengaja maka Sholat itu akan batal.
8. Membelakangi Kiblat
9. Menambah Rukun : Maksudnya menambah
rukun sendiri berupa perbuatan seperti ruku dan sujud
10. Tertawa : Yang dimaksud tertawa itu
saat kita melakukan Sholat kita sengaja tertawa walaupun hanya senyuman saja
atau tertawa terbahak bahak
11. Mendahului Imam : Jika kita
melakukan Sholat tetapi kita mendahului imam dua rukun atau gerakan maka sholat
kita akan batal.
12. Murtad Artinya keluar dari Agama
Islam
Demikian paparan tentang aturan dan tata
cara shalat, semoga memberikan kemanfaatan bagi kita semua.Amiin Yaa rabbal ‘alamiina.

