Pada Zaman Dahulu sebelum abad 11 M terdapat 9 orang yang
mengajarkan agama islam di indonesia. Oleh masyarakat mereka disebut ” Walisongo
” yang artinya sembilan wali Allah. Karena jasa walisongo itu orang-orang di
Negara Kesatuan Republik Indonesia ini lebih mengenal agama islam. Para wali
Allah tersebut adalah Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gresik, Sunan Bonang,
Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, Dan Sunan Gunung Jati.
Walisongo hadir di Indonesia dengan masukkan unsur islam
kedalam budaya dan tradisi lokal yang ada. Budaya-budaya tersebut adalah yang
kita kenal hingga sekarang seperti pagelaran wayang, ziarah kubur, selametan, maulid Nabi (muludan) dan lain-lain.
Setelah periode walisongo berahir, kemudian pada tahun 1900
M perjuangan walisongo dilanjutkan oleh para kyai yang berasal dari berbagai
daerah di indonesia. Diantara para kyai tersebut adalah murid Syaikhona Kholil
( Bangkalan ).Syaikhona Kholil adalah seorang ulama yang juga dikenal
masyarakat sebagai Waliyullah. Murid beliau diantaranya adalah KH.Ma’sum,
KH.Hasyim Asyari, yang kemudian dilanjutkan oleh KH.Abdul Wahab Hasbullah,
KH.Bisri Syansuri dan Kyai-kyai lainnya. Setelah cukup lama belajar di
Bangkalan para kyai tersebut pun berkeliling melanjutkan perjalanan untuk
mencari ilmu ke beberapa pesantren di Indonesia. Hingga Akhirnya Kyai Wahab,
Kyai Bisri Syansuri dan beberapa kyai lainnya berguru pada KH.Hasyim Asy’ari di
Tebuireng Jombang Jawa timur, setelah beberapa tahun belajar di pesantren Tebuireng atas restu
dari KH Hasyim Asyari mereka ( para kyai ) melanjutkan belajar agama di Mekkah.
Ketika mereka sudah belajar di Mekkah tiba-tiba pada tahun 1914 M terjadi
perang dunia Ke ll. Pada saat itu seluruh dunia dalam keadaan genting dan tidak
aman sehingga kondisi tersebut mengharuskan mereka ( para kyai ) untuk segera
kembali pulang ke tanah air. Setelah para kyai tersebut sampai tanah air
kemudian berdiskusi tentang langkah apa saja yang harus dilakukan agar tanah air Indonesia kembali aman. Hingga ahirnya
pada tahun 1916 M atas ide kyai Wahab maka terbentuklah gerakan yang diberi
nama Nahdlatul Wathon yang bertujuan untuk membantu kebangkitan tanah air
Indonesia.
Namun disisi lain ternyata para penjajah Belanda juga
merebut semua hasil bumi masyarakat, sehingga terjadilah kemiskinan yang begitu
parah. Karena Kejadian itu, pada tahun 1918 M kyai Wahab dan para kyai lainnya
membentuk Nahdlatul Tujjar, yaitu perkumpulan yang dibentuk untuk para pedagang
agar bisa meningkatkan perekonomian tanah air pada saat itu. Dan tidak cukup
sampai disitu, ternyata pendidikan di negara kita Indonesia juga terjajah.
Sehingga pada tahun 1918 M kyai Wahab kembali mempunyai ide untuk mendirikan
satu gerakan lagi guna mengembalikan dan meningkatkan pendidikan di negara
Indonesia, dimana pergerakan itu dinamakan “Taswirul Afkar”. Setelah
gerakan-gerakan itu berjalan selama 6 tahun , pada tahun 1924 M kondisi di
tanah air kembali gaduh ketika raja Makkah Sayyid Syarif Husein telah
digantikan oleh raja Ibnu Saud. Pergantikan itu mengejutkan seluruh ummat islam
di dunia, hal itu disebabkan karena raja Ibnu Saud mempunyai pandangan berbeda
dengan ummat islam yang lainnya. keresahan pun semakin memuncak ketika Raja
Ibnu Saud memberlakukan satu madzhab di tanah Hijaz serta pemaksaan ajaran
Wahabi terhadap umat islam di Hijaz. Mendengar Hal itu para kyai tidak tinggal
diam, dikhawatirkan akan berdampak di Indonesia , akhirnya atas izin KH.Hasyim
Asyari kemudian KH. Wahab Hasbullah mendirikan Komite Hijaz yaitu panitia yang
bertugas menyampaikan protes terhadap Raja Ibnu Saud.Setelah melalui berbagai
perjuangan yang berat tersebut, ahirnya pada tanggal 31 Januari 1926 M para
kyai sepakat untuk membentuk suatu organisasi resmi. Organisasi itu dinamakan
Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan ulama. Yang dipelopori oleh kyai Wahab
dan kyai-kyai lain serta dipimpin oleh KH.HASYIM ASY’ARI.
Namun setelah 1 tahun terbentuk, Nahdlatul Ulama belum
mempunyai lambang organisasi. Hingga ahirnya menjelang muktamar ke-2 pada tahun
1927 kyai Hasyim menugaskan kyai Ridwan Abdullah untuk membuat lambang
Nahdlatul Ulama. Dan ahirnya terciptalah lambang Nahdlatul Ulama berupa bola
dunia dikelilingi 9 bintang dan tali penyambung serta tulisan Nahdlatul Ulama
dalam bentuk tulisan Arab.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa tujuan didirikannya Nahdlatul
Ulama selain untuk mempertahankan ajaran ahlussunah waljamaah juga untuk
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari kekuasaan penjajah, sebagaimana yang
pernah diungkapkan kyai Wahab Hasbullah sang motor utama Nahdlatul Ulama ”
Kemerdekaan itu syarat utama, umat islam tidak akan leluasa sebelum negara kita
merdeka !”.

